Senin, 22 Juli 2013

Seni Komunikasi

        Dalam gelap ku diam mengawasi keadaan yang penuh tekanan, control sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan agar tidak larut dalam keheningan. Berbagai macam pertanyaan bermunculan satu demi satu begitupun dengan suara bising jalanan bersautan tanpa nada dan intonasi yang jelas. Semua semakin kontras terdengar di tengah gelap himpitan tembok tua tempat bersemayamnya tikus-tikus jalang. Berlari dengan mangsa dalam gigitan dan meraung saat di terjang musuh, dalam keheningan semuanya terjadi secara alamiah, tak peduli berapa lama akan bertahan, secepat itu gambaran hilang dalam pandangan. Ini bukan pertama atau akan menjadi akhir tak satupun mengetahuinya. Jika saja semuanya tercipta mungkin hanya tokohnya yang berbeda baik watak maupun pola pikirnya, atau bisa saja sama, sama-sama menempati ruang dan waktu.
Jalanan mulai sepi aku langkahkan kaki menyusuri kerinduan yang semakin memuncak ini, bukan penggalauan akan kasih sayang tapi ini adalah sebuah pengabdian dan dedikasi atas nama keluarga, tak peduli seberapa dalam lauatan atau seberapa tinggi gunung yang harus ku daki yang pasti kasih sayangnya takan pernah terganti dan akan tetap hidup abadi.
      Aku sama seperti yang lain, terkadang merindukan arti kasih dan sayang. Namun, sekali lagi aku mengerti, paham terhadap apa yang harus aku lakukan. Tak perlu banyak narasi dan setumpuk syair, hanya satu sikap yang akan aku tunjukan untuk mengungkapkan apa arti pengorbanan. Begitupun dengan waktu aku tak peduli berapa banyak waktu yang diperlukan untuk meraih semua impian yang sekarang masih hidup dalam paragraf, aku hanya bisa diam menikmati setiap pengorbanan yang telah dilakukan, tak peduli berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk sampai di “kerajaan” yang pasti aku melakukannya bukan atas keterpaksaan atau keputusasaan karena ketakutan akan kalah dalam perang melawan ketiadaan. Aku tidak perlu mengungkap semuannya, biarkan saja ini menjadi sebuah karya seni dalam komunikasi yaitu diam itu jauh lebih berharga ketimbang mengumbar opini yang tak jelas yang hanya mendatangkan kesenangan subjektif belaka dan mendapatkan kekecewaan dari lingkungan.
                      ‘Untuk menjelakan sebuah pesan kau tidak harus selalu berbicara’    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar