Selasa, 06 Agustus 2013

Sejarah Ilmu Retorika

Retorika adalah seni sekaligus ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa dengan tujuan menghasilkan efek persuasive. Selain logika dan tata bahasa, retorika adalah ilmu wacana yang tertua yang dimulai sejak zaman Yunani kuno. Hingga saat ini, retorika adalah bagian sentral dalam pendidikan di dunia Barat. Kemampuan dan keahlian untuk berbicara di depan audiens publik dan untuk mempersuasi audience untuk melakukan sesuatu melalui seni berbicara adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelatihan seorang intelektual (Johnstone, 1995). Retorika sebagai cabang ilmu berkaitan erat dengan penggunaan symbol-simbol dalam interaksi antar manusia.

Dalam sistematisasi retorika Aristoteles, aspek terpenting dalam teori dan dasar pemikiran retorika adalah tiga jenis pendekatan untuk mempersuasi audiens, yakni logos, pathos dan ethos. Logos adalah strategi untuk meyakinkan audiens dengan menggunakan wacana yang mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas (reasoned discourse), sementara pathos adalah pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan audiens dan ethos adalah pendekatan moral menggunakan nilai-nilai yang berkaitan dengan keyakinan audiens.

Di abad ke-20, retorika berkembang menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya pengajaran tentang komunikasi publik dan retorika di sekolah-sekolah menengah dan universitas-universitas pertama di Eropa dan kemudian meluas hingga kawasan-kawasan lain di dunia. Harvard, sebagai universitas pertama di Amerika Serikat, misalnya, telah lama memiliki kurikulum mata kuliah dasar sebagai Retorika sebagai salah satu mata kuliahnya
(Borchers, 2006). Dengan berkembangnya ilmu komunikasi, pembelajaran retorika lebih meluas lagi. Saat ini, retorika dipelajari dalam ruang lingkup yang luas dalam bidang pemasaran, politik, komunikasi, bahkan bahasa (linguistik). Propaganda menjadi fenomena retorika yang sangat menarik. Ketika orang berlomba-lomba mendesain kata-kata untuk mempengaruhi orang lain, itu
membuktikan bahwa seni merangkai pesan sangat berpengaruh dalam berkomunikasi.


Retorika pada Zaman Yunani Kuno

Sejarah menunjukkan bahwa public speaking yang kita kenal dewasa ini berakar dari tradisi politik peradaban Yunani kuno. Asal mula public speaking tidak pernah terlepas dari aspek politik yang menjadi akarnya. Seni berbicara di depan publik disebut sebagai “retorika”. “Retorika” berasal dari Bahasa Yunani. Kata ητορικός (rhētorikos), yang berarti “pidato”, dari kata ήτωρ (rhtōr) "pembicara publik". Retorika juga berkaitan dengan kata ημα (rhêma), "yang dikatakan", dan dari kata kerja ρ (erô), "berkata, berucap” (Liddell & Scott,n.d.).           

a.      Gorgias dan Plato

Retorika berawal dari kultur pemerintahan Yunani kuno yang melibatkan partisipasi politik masyarakat sebagai elemen terpenting dalam pengambilan keputusan. Para politisi sering melakukan pidato-pidato di tempat terbuka untuk didengarkan oleh masyarakat untuk mempersuasi mereka dan sekaligus melebarkan pengaruh para politisi itu sendiri. Para orator-orator Yunani tidak berbicara sebagai perwakilan pihak lain atau konstituen tertentu. Mereka berpidato di publik atas nama diri mereka sendiri. Setiap warga negara yang ingin menonjol dan berhasil dalam karier politik harus mempelajari teknikteknik berbicara di depan publik.
Makna “retorika” kemudian berkembang menjadi seni menyusun dan menyampaikan pidato di depan publik dengan tujuan untuk mempersuasi. Dari sinilah kata “retorika” muncul sebagai alat yang sangat krusial untuk mempengaruhi kondisi perpolitikan dan pemerintahan Yunani. Keterampilan berpidato ini diajarkan oleh kaum sofis. Mereka dikenal sering menerima bayaran untuk mengajarkan bagaimana membuat argumen yang lemah menjadi lebih kuat. Mereka juga memiliki murid-murid yang dilatih dalam teknik berbicara di depan publik.

Sejarah mencatat, Gorgias (485 SM – 380 SM), seorang sofis dan ahli retorika yang hidup sebelum era Socrates sebagai salah satu tokoh retorika yang paling menonjol pada masa itu. Ia lahir di Leontini, Sicilia, dan di kemudian hari menetap di Atena. Gorgias dapat dikatakan sebagai salah public speaker profesional, sekaligus komersil, yang pertama dalam sejarah. Ia sering mengadakan pidato di tempat-tempat umum ternama seperti Olympia dan Delphi. Ia juga
menarik bayaran atas pengajaran yang diberikan lewat pidatopidatonya. Keunggulan penampilan Gorgias adalah, dalam pidatonya, ia selalu menerima pertanyaan-pertanyaan dari audiens secara acak dan ia mampu memberikan jawaban secara impromptu atau tanpa persiapan (Guthrie, 1971). Menurut Gorgias, seorang ahli retorika yang baik dapat berbicara dengan cara yang meyakinkan dalam topic apapun, sekalipun ia tidak berpengalaman di bidang tersebut. Pendapatnya ini menunjukkan bahwa retorika, sebagai sebuah seni dan teknik berkomunikasi, dapat dimanfaatkan untuk mengkomunikasikan apapun, tidak hanya pidato politik. Gorgias menyatakan kekuatan retorika sebagai alat yang efektif untuk membujuk dengan mengatakan bahwa retorika membuat orang mampu “mempersuasi dengan kata-kata para hakim-hakim di
pengadilan dan senator-senator yang berkepentingan” (Plato dalam...). Dengan demikian jelaslah bahwa ia mengajarkan retorika sebagai teknik menggunakan kata-kata persuasif untuk memperoleh kekuasaan dan menjustifikasi gagasan dan tindakan dengan menggunakan kata-kata.


Di satu sisi, memiliki keahlian berretorika sangat penting dalam kehidupan seorang intelektual publik pada jaman itu. Tetapi di lain sisi seni berretorika sering dicibir bahkan ditakuti karena kemampuan para ahli retorika mempengaruhi orang lewat kata-kata. Tulisan paling berpengaruh ditulis pada Abad ke-4 SM tentang retorika adalah dialog Plato dengan judul yang sama dengan
tokoh yang mewakili tradisi retorika yang dikritiknya,Gorgias. Ketika itu, retorika adalah praktek yang sangat populer di Atena. Dialog Gorgias ditulis Plato untuk merespon kekaguman berbagai pihak pada masa itu terhadap retorika sebagai seni berbicara yang dianggap sangat berguna. Tak pelak, karena kekuatan retorika untuk mempersuasi audiensnya, praktik ini pun dipandang secara negatif. Dalam catatan Plato diceritakan pandangan Socrates yang mengatakan bahwa retorika tidak lebih dari cara orang-orang “pandai” untuk membujuk pendengar-pendengar yang “polos” untuk setuju dengan mereka. Plato sendiri sempat menyebut retorika sebagai perbuatan yang “licik” dan “buruk” (foul and ugly). Plato mengkritik retorika sofistik seperti yang diajarkan oleh Gorgias karena menurutnya kaum sofis menggunakan retorika hanya
untuk menampilkan pidato-pidato persuasif yang mementingkan kepentingan pribadi, bukan didasarkan pada keadilan. Retorika seperti ini berbahaya bila terus menerus dipraktekkan, apalagi diajarkan pada generasi muda, karena dapat membentuk masyarakat yang tidak adil. Tidak dapat dipungkiri bahwa Plato sendiri dalam tulisannya dan dari cara ia mengemukakan argumen, menunjukkan keahlian menggunakan kata-kata secara persuasif. Hal ini notabene identik dengan seni retorika. Seorang orator ulung Romawi, Cicero, membaca Gorgias ketika berkunjung ke Athena dan berpendapat bahwa tulisan Plato, alih-alih mendiskreditkan para ahli retorika, malahan menunjukkan keahlian Plato sendiri dalam berretorika.

Perbedaan Gorgias dan Plato, menurut Herrick (2008) ada pada persepsi keduanya tentang hubungan antara peretorika dengan audiensnya. Para sofis mengatakan apa yang ingin dan senang didengar oleh audiensnya dengan tujuan membujuk mereka untuk percaya pada apa yang diinginkan oleh peretorika. Dengan demikian retorika sofis memanipulasi audiens dan mengabaikan informasi yang benar. Untuk Plato, kebenaran tidak bergantung pada versi peretorika. Kebenaran juga bukan tergantung pada apa yang diterima oleh audiens. Kekuatan seorang peretorika ada pada kebenaran yang abash sementara hasil akhir yang seharusnya dicapai adalah keadilan. Solusi Plato bagi kritik yang ia kemukakan terhadap retorika sofistik terdapat dalam dialognya yang berjudul Phaedrus. Phaedrus memuat gagasan Plato tentang seni persuasi sejati dalam berpidato. Menurutnya, seni persuasi yang benar bertujuan untuk mencapai
tatanan masyarakat yang lebih baik. Seorang peretorika harus mengenal jiwa manusia, mempelajari ragam karakter manusia, dan menyadari kekuatan di balik penggunaan kata-kata. Jiwa manusia dalam konsep Plato mengacu pada tipe kepribadian manusia.

Dalam Phaedrus, Plato mengusulkan bahwa inti dari sebuah seni retorika yang sejati adalah kemampuan untuk menyesuaikan argumen dengan tipe kepribadian manusia yang berbeda-beda. Plato menyatakan bahwa seorang pembicara “harus menemukan jenis pidato yang sesuai dengan
masing-masing tipe kepribadian manusia”. Beberapa ahli mencatat bahwa Plato dan Socrates mengkaitkan antara kekuatan berargumen dengan menggunakan kata-kata (logoi) dengan pengetahuan tentang psikologi manusia. Lalu bagaimana caranya seseorang dapat mengarang sebuah pidato? Socrates menggambarkan sebuah proses yang berbasis pada pengetahuan, yang secara sangat simplistik ia sebutkan sebagai mengatur dan membumbui setiap pidato sehingga pidato yang kompleks dipresentasikan kepada manusia dengan kepribadian yang kompleks sementara pidato yang sederhana dipresentasikan pada manusia dengan kepribadian sederhana.

Ketika seorang pembicara dapat mengenal psikologi pendengarnya dan mengetahui bagaimana
menggunakan kata-kata dan argumen maka, Socrates mengatakan, “akan memungkinkan untuk memproduksi pidato dengan cara yang ilmiah, sejauh yang dapat dicapai, baik untk tujuan pengajaran maupun untuk mempersuasi” (Herrick, 2008, p. 66).



b.      Aristotles

Aristotles dapat dikatakan sebagai kontributor terbesar dalam perkembangan retorika di dunia Barat. Aristotles tiba di Atena pada tahun 367 S.M. tepat satu abad setelah sejarah mencatat masa di mana tradisi retorika dimulai. Pada usia 17 tahun, ia mengikuti Akademi yang didirikan Plato. Hill (dalam Herrick, 2008) menuliskan bahwa ia memulai kariernya sebagai intelektual dengan meneruskan perseteruan akademik dengan kaum Sofis, seperti halnya yang dilakukan oleh
Plato. Tentu saja perseteruan tersebut melibatkan persoalan retorika. Pada awalnya, Aristotles mengambil posisi yang kritis terhadap retorika. Namun pada akhirnya ia mempelajari lebih dalam tentang seni retorika dan akhirnya menulis sebuah karya yang hingga kini
masih sangat berpengaruh dalam tradisi intelektual yaitu Retorika. Dalam tulisannya tersebut, Aristotles menyusun sebuah pelajaran retorika yang sistematis untuk murid-muridnya. Ini juga sekaligus merupakan usahanya untuk melegitimasikan pembelajaran tentang retorika dalam sekolahnya, Lyceum. Bila pendekatan Plato lebih mengarah ke pendekatan moral, Aristotles memilih pendekatan yang lebih pragmatis dan ilmiah. Tujuan Aristotles adalah untuk memperdalam tradisi retorika yang pada saat itu masih berkutat pada cara berpidato seperti di pengadilan dan, menurutnya, kurang canggih. Aristotles meminjam beberapa ide dari para sofis dan dari Plato. Namun, banyak pula argumen-argumen dalam tulisannya yang berseberangan dengan apa yang dikemukakan dalam Gorgias.


Tulisan Aristotles Retorika dibagi menjadi tiga buku. Buku pertama mendefinisikan retorika, menetapkan ruang lingkup retorika, serta membagi retorika menjadi tiga jenis oratori (pidato). Buku kedua membahas tentang strategi-strategi retoris yang terdiri dari karakter dan emosi. Buku ketiga berbicara tentang gaya berbicara dan pengaturan argumen dan kata-kata. Menurut definisi Aristotles, “retorika adalah kemampuan (dunamis: juga dapat berarti kapasitas atau kekuatan) untuk mempraktekkan, pada berbagai kondisi, cara-cara persuasi yang tersedia” (1355b). Dengan mengemukakan definisi ini, Aristotles mengubah posisi retorika dari semata-mata sebuah praktek berpidato atau berorasi menjadi sebuah proses kreatif. Kaum sofis mengajarkan murid-murid mereka untuk menghafalkan pidato-pidato dan berdebat dengan cara berlatih menirukan dan mengulangi. Aristotles berpendapat sebaliknya. Retorika Aristotles adalah sebuah upaya untuk menemukan argumen dan pernyataan yang persuasif sekaligus berkesan. Ia mengajarkan murid-muridnya untuk memiliki kemampuan mencari dan mengembangkan kemampuan rasional mereka untuk dapat menemukan pernyataan apa yang persuasif dalam setting yang berbeda-beda. Ia berkeyakinan bahwa retorika seperti ini dapat diajarkan dan dapat dipelajari secara sistematis.

Bila retorika adalah sebuah ilmu yang dapat diajarkan, maka pertanyaannya adalah, apakah yang diajarkan oleh ilmu retorika dan apakah yang dipelajari oleh seorang murid retorika? Dalam Buku Pertamanya, Aristotles memberikan jawabannya atas pertanyaan tersebut dengan menyatakan bahwa ada tiga elemen teknis (iemechnoi pisteis) yang merupakan inti dari ilmu retorika; terdiri dari (1) penalaran logis (logos), (2) penggugah emosi atau perasaan manusia (pathos), dan (3) karakter dan kebaikan manusia (ethos). Selain itu, ia juga menyebutkan beberapa elemen non teknis (atechnoi pisteis) seperti dokumen atau kesaksian. Elemen non-teknis ini dianggapnya berguna dalam berargumen namun bukan bagian dari pembelajaran
retorika.


Logos

Dalam bahasa Yunani, kata “logos” memiliki berbagai makna. Logos dapat berarti sebuah kata atau kata-kata (jamak) dalam sebuah dokumen atau pidato. Logos juga dapat diartikan sebagai makna dari gagasan yang terdapat dalam kata-kata, percakapan, argumen atau kasus. Logos juga dapat berarti akal budi atau rasionalitas. Pada dasarnya, manusia dibedakan dari makhluk lainnya karena memiliki logos. John Randall (....) menulis bahwa logos diartikan sebagai kata
kerja yang bermakna “berperilaku dengan akal budi”. Sebenarnya, pada tahun 4 S.M., para cendekia Yunani tidak membedakan antara berbicara dengan berpikir, keduanya selalu ditautkan dalam konteks yang sama. Kata-kata dimaknai sebagai ekspresi lisan yang diasosiasikan dengan berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk membaca. Kegiatan membaca dalam hati tidak dikenal oleh mereka maupun kaum cendekia Romawi pada zaman itu. Maka dari itu, oleh bangsa Yunani, kata-kata tertulis tidak ada bedanya dengan kata-kata yang terucap. Maka dari itu, kata “logos” seperti yang digunakan Aristotles dalam “Retorika” mengacu pada argument dan logika pidato yang lisan. Logos yang terkait erat dengan proses penalaran dan membuat kesimpulan, sangat erat terkait dengan logika. Namun yang lebih esensial bagi Aristotles bukanlah aspek teknis dari logika. Inti retorika adalah cara orang bernalar dan cara pengambilan keputusan tentang persoalan-persoalan publik yang penting. Logos adalah pembelajaran tentang argumen-argumen yang dikemukakan sebagai hasil dari proses penalaran yang biasa dilakukan orang dalam praktik pengambilan keputusan.


Pathos

Aristotles menganggap pembelajaran tentang emosi manusia atau pathos, sangat penting dalam ilmu retorika yang sistematis. Meski demikian, ia sendiri tidak setuju dengan pembicara-pembicara yang hanya menggunakan manipulasi emosi untuk mempersuasi audiensnya. Aristotles mendefinisikan pathos sebagai “meletakkan audiens dalam kerangka pemikiran yang tepat” (1358a). Konsep Aristotles tentang pathos sebagai aspek emosional dari sebuah pidato ia munculkan karena ia berpendapat bahwa emosi seseorang memiliki pengaruh besar terhadap kemampuannya untuk melakukan penilaian (judgment). Hubungan antara emosi dan penilaian rasional seseorang menjadi tema dasar dari tulisan Aristotles tentang pathos. Menurutnya, seorang pembicara yang memiliki pengetahuan memadai dapat menyentuh perasaan dan keyakinan yang berpengaruh terhadap penilaian audiens dan, dengan demikian, dapat menggerakkan mereka untuk meyakini apa yang disampaikan pembicara. Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya seorang pembicara untuk memiliki penilaian yang benar secara moral, bukan semata-mata keinginan pragmatis untuk memenangkan sebuah argumentasi. Jadi pembelajaran tentang pathos adalah pembelajaran tentang psikologi emosi dan dituntun oleh beban moral untuk menemukan dan menyampaikan kebenaran serta melakukan yang benar.

Pembahasan tentang pathos mencakup emosi-emosi yang dialami oleh manusia pada umumnya, yakni rasa marah, takut, malu, dan belas kasihan. Dengan sistematis, Aristotles mendefinisikan masing-masing emosi tersebut dan menjabarkannya secara terperinci. Herrick (2008) mengamati bahwa paparan mendetil Aristotles tentang pathos sebenarnya tidak hanya difokuskan pada bagaimana cara seorang pembicara membuat jenis-jenis emosi tersebut timbul pada diri audiens, melainkan sebuah eksposisi psikologis terperinci untuk membuat pada murid-muridnya mengerti respon-respon emosional dalam diri manusia. Tujuan akhirnya, adalah agar seorang peretorika
mempelajari kondisi emosional audiens dan berupaya untuk menyelaraskan kondisi emosional itu dengan sifat dan tingkat keseriusan konten pidato yang disampaikan. Peretorika sofis seperti Gorgias memanfaatkan emosi audiens sebagai alat untuk memikat audiens agar terpersuasi, sementara logika konten yang disampaikan diposisikan sebagai aspek sekunder dari
sebuah pidato. Sebaliknya, Artistotles tidak menganggap bahwa emosi berlawanan dengan rasionalitas dan logika. Baginya, emosi sebenarnya adalah respon manusia yang rasional terhadap situasi yang sedang dihadapi atau kata-kata yang sedang didengar.

Aristotles memberi kontribusi yang signifikan adalah mengubah persepsi tentang emosi dalam hubungannya dengan praktik retorik. Aspek emosional tidak harus diceraikan dari wacana yang logis. Retorika Aristotles berpegang pada prinsip bahwa menggugah emosi audiens harus dilakukan dengan cara yang rasional dan relevan dengan konten yang disusun sebagai hasil penalaran yang logis.


Ethos

Dalam Retorika, Aristotles berbicara mengenai karakter dan kredibilitas seorang pembicara. Menurutnya, kedua hal ini harus timbul dari seorang pembicara pada saat ia menyampaikan pidatonya. Reputasi seorang individu di luar praktiknya berretorika tidak relevan dengan kredibilitasnya sebagai seorang peretorika. Aristotles membagi karakter menjadi tiga bagian. Untuk mencapai ethos, seorang pembicara harus memiliki (1) kepandaian, nalar yang baik (phronesis), (2) integritas atau moralitas (arete), dan (3) niat baik (eunoia).

Seorang peretorika yang terlatih harus mengerti karakter bagaimana yang diterima dan dipercaya oleh masyarakat yang menjadi audiensnya. Bila pathos adalah psikologi mengenai emosi manusia, maka ethos dapat dikatakan sebagai sosiologi mengenai karakter manusia. Selanjutnya, bagi Aristotles, pathos bukan hanya persoalan menunjukkan kredibilitas seseorang di hadapan audiens, tetapi merupakan pembelajaran tentang apa yang diyakini merupakan kualitas seorang individu yang terpercaya di Atena pada jaman itu. Aristotles menganggap ethos sebagai aspek terpenting dari ketiga elemen yang ia ajukan karena ethos memiliki potensi persuasif yang tinggi. Bila audiens yakin bahwa seorang pembicara menguasai apa yang ia bicarakan dan memiliki niat yang baik untuk audiensnya, maka ia akan diterima dan dipercaya oleh audiensnya.

Gaya (style) Berretorika Menurut Aristotles Selain ketiga elemen di atas, Aristotles juga membahas pembawaan, gaya bicara dan penyusunan pidato dalam bukunya. Pembawaan pidato, menurutnya penting karena berkaitan dengan bagaimana audiens menerima apa yang dikatakan oleh pembicara. Ia berpendapat bahwa kemampuan berdramatika adalah bakat seseorang
sehingga pembawaan yang efektif sulit diajarkan. Hal terpenting adalah diksi (pemilihan kata-kata) yang tepat. Gaya berbicara atau gaya berbahasa harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Hal yang terpenting adalah kejelasan. Kejelasan dapat dicapai apabila kata-kata yang digunakan sesuai dengan perkembangan jaman dan dapat dimengerti orang awam. Seorang pembicara harus mampu berbicara menggunakan bahasa tutur yang dikenal dalam pembicaraan sehari-hari. Dalam bahasa Aristotles, “bahasa yang persuasif adalah yang natural”. Paparan di atas menunjukkan bagaimana Aristotles mensistematikakan retorika sebagai sebuah ilmu. Hingga saat ini, Retorika masih diakui sebagai maha karya dalam pembelajaran tentang cara berwacana di depan publik. Aristotles mengajarkan bahwa untuk menjadi seorang peretorika yang handal tidak hanya diperlukan penguasaan terhadap argumen, tetapi juga pemahaman tentang emosi manusia dan faktor-faktor yang membentuk karakter seorang pembicara. Ditambah lagi, seorang peretorika harus menguasai isu-isu terkini, dan mengerti estetika bahasa. Ini menunjukkan bahwa menjadi seorang orator atau peretorika bukanlah pekerjaan mudah. Topik-topik tentang retorika yang dikemukakan oleh para cendekia Yunani memiliki pengaruh besar dalam teori retorika hingga kini. Bahkan apa yang dikemukakan oleh tokoh seperti Plato dan Aristotles telah menjadi dasar bagi pembelajaran tentang metode berbicara maupun menulis dalam pendidikan modern.


Sumber: Grace Prima. Laporan Penelitian PKK Public Speaking.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar